Corak Baru Modernisasi Islam Indonesia

Oleh : Toto Suharto

Judul Buku       : IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia

Penulis              : Fuad Jabali dkk.

Penerbit            : Logos Wacana Ilmu, Jakarta

Cetakan ke-      : I, Juni 2002

Halaman           : 200 + x, 15 x 23 cm.

Peran Strategis IAIN: Upaya Menuju Modernisasi

Sebagian besar buku ini merupakan hasil penelitian kualitatif dalam rangka kerjasama CIDA (Canada-International Development Agencies) yang dituangkan dalam paket Program ICIHEP (Indonesia Canada Islamic Higher Education Project) dengan Departemen Agama RI, khususnya IAIN Jakarta dan Jogjakarta. Seperti tampak dari judulnya, buku ini bermaksud menelusuri dan mengungkap sejauh mana peran strategis yang diemban IAIN dalam rangka modernisasi Islam di Indonesia. Masalah pokok seperti ini kiranya perlu dikemukakan, mengingat IAIN selaku lembaga pendidikan tinggi Islam kini usianya mencapai 50-an, suatu usia yang cukup dewasa jika dibanding dengan umur manusia.

Ada tiga masalah yang dikemukakan buku yang ditulis oleh para Dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Masalah pertama menyangkut peran IAIN Jakarta dan Jogjakarta, terutama Program Pascasarjananya. Pada bagian ini dikemukakan bahwa kedua IAIN ini dipandang sebagai center of excellence di banding IAIN/STAIN lain. Kedua IAIN ini melalui Program Pascasarjananya telah membuat semacam jaringan kelembagaan dengan IAIN/STAIN di daerah. Semenjak program ini diselenggarakan pada tahun 1982 untuk Jakarta dan 1983 untuk Jogjakarta, kedua IAIN ini telah mulai menyemaikan pemikiran keislaman yang lebih rasional dan toleran kepada para alumninya yang berasal dari Dosen-Dosen IAIN/STAIN di daerah. Pola pemikiran Harun Nasution yang disebut “Harunisme” dan A. Mukti Ali yang “toleransi” begitu membekas di pikiran para alumninya. Pola pemikiran kedua tokoh ini diharapkan mampu diterapkan oleh para alumni itu dalam rangka menafsirkan tradisi keislaman lokal di daerah masing-masing.

Masalah kedua berkaitan dengan modernisasi sistem pendidikan pesantren dan madrasah yang dilakukan IAIN. Buku yang ditulis oleh para alumni pendidikan luar negeri ini menyebutkan bahwa setelah sekian lama IAIN berkiprah dalam dunia akademik dan menelorkan banyak lulusan, sistem pendidikan Islam di Indonesia, terutama pesantren dan madrasah, banyak mengalami perubahan. IAIN dipandang sebagai salah satu jalur pendidikan terbesar yang banyak diminati kaum santri untuk melanjutkan pendidikannya. Jika tidak bisa melanjutkan studi ke Timur Tengah, maka  kebanyakan mereka “berlari” ke IAIN. Setamat dari IAIN, mereka kemudian mengabdi pada pesantrennya masing-masing. Hal ini menyebabkan banyaknya kyai atau ustadz yang merupakan alumni IAIN. Oleh karena para alumni IAIN itu telah dibekali dengan pemahaman Islam yang “liberal” dan “modern”, maka pemahaman semacam ini pada gilirannya dapat ditransfer ke dalam sistem pendidikan pesantren, tatkala mereka menjadi guru atau kyai di pesantrennya. Dalam konteks modernisasi madrasah, peran alumni IAIN jelas sangat besar. Pada tingkat Departemen Agama misalnya, para perumus kebijakan modernisasi madrasah sebagian besar adalah alumni IAIN. Demikian pula kebanyakan para guru madrasah adalah alumni IAIN. Dari sini kiranya dapat dipahami bahwa besarnya peran alumni IAIN dengan menjadi guru di madrasah merupakan faktor penting yang menyebabkan banyak madrasah bersikap akomodatif terhadap berbagai kebijakan Pemerintah, dalam rangka modernisasi sistem pendidikan madrasah. 

Adapun masalah ketiga berhubungan dengan peran IAIN dalam pengembangan tradisi intelektual dan gerakan Islam di Indonesia. Pada bagian ini dikemukakan bahwa IAIN telah berhasil memperluas horizon pemikiran Islam, yang bukan melulu berkutat seputar teks, sehingga fiqh oriented. Kajian-kajian kontemporer seperti demokrasi, civil society, gender, lingkungan dan semacamnya juga telah menjadi wacana intelektual yang berkembang subur di Indonesia. Semuanya ini berkat peran intelektual yang diemban IAIN. Adapun dalam konteks gerakan Islam di Indonesia, IAIN telah berperan mengubah organisasi-organisasi sosial-keagamaan menjadi oranisasi yang mengarah kepada pemberdayaan masyarakat (social empowering). Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya kalangan akademisi IAIN yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dengan organisasi-organisasi Islam yang ada di Indonesia.

Corak Baru Kajian Modernisasi

Demikianlah ketiga masalah di atas dikupas buku ini secara empiris-ilmiah, disertai dengan data-data lapangan. Buku ini kiranya telah dianggap mampu menggambarkan kondisi ril tentang peran dan kiprah IAIN dalam rangka modernisasi Islam di Indonesia. Kalau sampai tahun 1975-an alumni IAIN hanya berlaku di Departemen Agama, maka kini mereka telah berhasil menembus departemen-departemen lain. Selain itu, mereka juga cukup memiliki prestasi yang membanggakan dengan menjadi politisi, aktivis LSM, pengusaha dan lain-lain. Semua perkembangan ini menunjukkan bahwa IAIN telah meningkat harkatnya menjadi sebuah perguruan tinggi yang intellectual prestigious.

Fenomena akademik selama ini menunjukkan bahwa kajian modernisasi Islam di Indonesia selalu mengikuti dua pola. Pola pertama adalah kajian tentang modernisasi yang dilakukan para tokoh Islam Indonesia dengan corak individual (lihat misalnya karya-karya yang ditulis oleh Muhammad Kamal Hassan atau Greg Barton). Pola kedua adalah kajian tentang modernisasi yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam dengan corak organisatoris-asosiasional (lihat misalnya tulisan Alfian, Alwi Shihab, Howard M. Federspiel atau Martin van Bruinessen). Kini pola kajian itu telah mengalami perkembangan baru. Buku ini adalah salah satu buktinya. Ia berusaha mengkaji modernisasi Islam di Indonesia dengan corak institusional. IAIN sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam dikaji peran dan kiprahnya dalam rangka modernisasi Islam. Dalam kaitan ini telah terjadi semacam IAINisasi Islam Indonesia. Kajian seperti ini jarang dilakukan orang. Kalau pun ada, maka itu bukan dalam kerangka modernisasi Islam, seperti karya Maksum. Pada segi lain, kalau selama ini kajian modernisasi selalu menggunakan pendekatan sejarah politik (lihat misalnya karya Deliar Noer, Harry J. Benda atau B.J. Boland), maka buku ini mencoba mengkajinya dengan dimensi baru, yaitu sejarah intelektual kelembagaan. Sebagai penutup, perlu dikemukakan di sini bahwa alangkah baiknya pada bagian akhir buku ini disertakan daftar pustaka, layaknya sebuah karya ilmiah. Selain itu, buku ini baru sebatas melihat peran dan kiprah IAIN secara sendirian, tanpa dibandingkan dengan perguruan tinggi lain, semisal UI atau UGM. Perbandingan semacam ini perlu dilakukan mengingat IAIN kini sudah mulai berubah statusnya menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). Akhirnya, dengan segala kelebihan dan kekurangan, buku ini kiranya layak dibaca oleh kalangan akademisi, untuk dapat membaca peta perkembangan pemikiran Islam modern di Indonesia.

2 pemikiran pada “Corak Baru Modernisasi Islam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s