RAMADAN DAN PENGENDALIAN NAFSU AKAN HARTA

RAMADAN DAN PENGENDALIAN NAFSU AKAN HARTA
Oleh: Dr. Toto Suharto, M.Ag. (Khutbah Idul Fitri 1433H di Masjid Baitul Ihsan, Tanjungsari Jogorogo Ngawi Jawa Timur)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر الله أكبر الله أكبر. لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد. الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا, لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد.
الحمد لله الذي جعل اليوم عيدا لعباده المؤمنين. وختم به شهر الصيام للمخلصين. وجعل في طاعته عز الدنيا والاخرة للطائعين. اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له شهادة بها تطهر القلوب من الغش اللعين. واشهد ان محمدا عبده ورسوله اطوع الخلق لرب العالمين. اللهم فصل وسلم وبارك على سيد نا محمد وعلى اله واصحابه الجاهدين. اما بعد: , فيا أيها المسلمون رحمكم الله! أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتّقون. قال الله تعالى في القرأن الكريم وهو أصدق القائلين: قال عيسى ابن مريم اللهم ربنا أنزل علينا مائدة من السماء تكون لنا عيدا لأوّلنا وأخرنا وأية منك, وارزقنا وأنت خير الرازقين.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia !
Puja dan puji yang penuh rasa syukur mari kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Rahman. Berkat hidayah dan inayah-Nya kita telah mampu melaksanakan jihad akbar, memerangi syetan dan hawa nafsu di medan ibadah bulan Ramadhan. Dengan izin-Nya pula kita berhasil mengumumkan “proklamasi kemenangan” dari penjajahan syetan, seraya menegakkan bendera tauhid dan mengumandangkan kalimat takbir, tahmid dan tasbih di hari raya fitri yang berbahagia ini. Shalawat serta salam semoga Allah limpahkan sepenuhnya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW yang telah mengorbankan segenap usia, daya dan upaya demi kebahagiaan umatnya di dunia dan di akhirat.

Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah!
Ramadhan yang penuh hikmah dan barokah telah berlalu meninggalkan kita. Namun kita senantiasa berdoa, semoga berkah dan hikmahnya tidak akan berlalu dari jiwa kita, tanpa meninggalkan pesan dan kesan relijius. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang disinyalir Rasulullah: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak ada yang didapatnya selain lapar dan haus” ( HR. Ahmad dan Hakim ).
Sungguh banyak rangkaian hikmah Ramadhan yang dapat kita petik dari ibadah puasa. Melalui ibadah puasa, kita dididik untuk dapat mengendalikan hawa nafsu. Kita hanya tunduk dan takluk di bawah kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Pada hari biasa, apabila kita merasa lapar dan haus, kita kadang langsung teringat makanan dan minuman. Akan tetapi, pada bulan Ramadhan, setiap kita lapar dan haus, justeru kita teringat kepada Allah. Kita tidak langsung memenuhi kehendak hawa nafsu untuk makan dan minum. Kita mengendalikannya dan menaklukannya di bawah kehendak Allah, dengan mengundurkannya sampai berbuka, dengan penuh keimanan dan kesadaran.
Mengendalikan hawa nafsu sesungguhnya bukan hanya dituntut selama bulan suci Ramadhan saja, tapi hendaknya menjadi “pakaian hidup” setiap Mukmin. Selain itu, yang dikendalikan bukan hanya kehendak hawa nafsu makan dan minum saja, tetapi semua hawa nafsu yang mempengaruhi diri dan jiwa. Kita hendaknya dapat mengendalikannya sesuai kehandak Allah, agar tercipta nafsu muthmainnah yang penuh bahagia dalam keridhoan Allah SWT. “Wahai nafsu muthmainnah! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh keridhoan, masuklah ke dalam kelompok hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” ( QS. Al-Fajr:27-30).

Hadirin, Jama’ah Id yang berbahagia!
Ibadah puasa, sepanjang sejarah manusia, selalu menyerukan pesan “menahan dan mengendalikan diri sendiri”, sebuah pesan moral yang sangat mulia. Puasa, menurut istilah Prof. Ismail Raji’ al-Faruqi, adalah “latihan terbaik dalam seni pengendalian diri” (the art of self mastery). Puasa merupkakan ibadah yang mendorong kita berlatih menguasai dan mengendalikan diri. Pengendalian diri sering dikaitkan dengan kerja dan tanggung jawab secara pribadi. Pengendalian diri hanya bisa dilakukan orang yang bersangkutan, dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Sebab itu, puasa merupakan ibadah yang berkaitan langsung dengan sarana latihan dan pendidikan tanggung jawab secara pribadi. Orang yang berpuasa karenanya akan selalu menyadari bahwa Allah selalu bersamanya, dan mengawalnya sepanjang hari.
Di antara pengendalian diri yang dijarkan Ramadan ketika kita berpuasa adalah pengendalian terhadap nafsu akan harta. Harta itu merupakan suatu nikmat, tapi sekaligus ia juga merupakan amanah dan fitnah dari Allah. Oleh karena itu, hendaknya kita dapat mempergunakan dan memanfaatkan harta sesuai aturan dan bimbingan Allah, agar menjadi berkah dan kebahagiaan bagi kehidupan dunia dan akhirat. Terdapat beberapa hikmah yang dapat kita petik ketika kita berpuasa, khususnya terkait dengan pengendalian terhadap nafsu akan harta.
Pertama, puasa Ramadan mengajarkan kita untuk membelanjakan harta pada yang halal, bukan yang haram! Apa yang kita makan dan minum, baik untuk berbuka maupun sahur, kita upayakan agar berasal dari yang halal, bukan yang haram. Sungguh Allah telah mengingatkan kita, agar harta yang kita dapatkan dengan cucuran keringat, jangan sampai satu senpun dibelanjakan pada yang haram, baik untuk dimakan, diminum maupun untuk dibelikan pakaian. Allah telah memerintahkan kepada hamba-Nya agar memakan yang halal saja, tanpa dicampuri dengan yang haram sedikitpun. “Maka makanlah rizki yang telah Allah berikan kepadamu, yang halal lagi baik, dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu betul-betul hanya kepada-Nya mengabdikan diri”, demikian firman Allah dalam QS. An-Nahl: 114 .

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah!
Makan dan minum selain mempengaruhi pertumbuhan fisik, juga memberikan pengaruh yang cukup besar bagi pembinaan jiwa. Makanan yang halal akan menumbuhkan pribadi yang sehat rohani, siap mengabdi kepada Allah. Pribadi yang saleh, suci dan ahli ibadah, hanya dilahirkan dan dibesarkan dari pribadi yang suci pula, yaitu yang hanya memakan yang halal dan menjauhi yang haram. Sebaliknya, apabila seorang anak dibesarkan dari makanan yang haram, atau dari hasil kerja yang haram, maka sungguh sulit dia akan menjadi pribadi yang suci dan mulia. Karena memang darah dagingnya berasal dari yang haram, sehingga perilakunya cenderung kepada yang haram. “Kalaulah makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya diperoleh dari usaha yang haram dan dibesarkan dengan harta yang haram, maka bagaimana Allah akan memperkenankan doanya?”, demikian sabda Rasul sebagaimana diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah.

Allahu Akbar (3x) Wa Lillahilhamd!
Kedua, puasa Ramadan mengajarkan kita untuk membelanjakan harta itu seperlunya saja, tidak berlebihan! Ketika kita makan berbuka atau sahur, kita cukup mengkonsumi apa yang menjadi kebutuhan nutrisi kita, tidak berlebihan dan melebihi kapasitas kemampuan perut kita. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-An’am: 141). Isrof adalah berlebih-lebihan, yaitu membeli dan memiliki sesuatu dalam jumlah yang melampaui batas kewajaran, atau membeli dan memiliki sesuatu bukan karena keperluan, tetapi karena berpacu dalam gengsi. Sungguh Allah membenci pola hidup yang mewah dan berfoya-foya, yang menjadikan harta sebagai simbol atau lambang gengsi. Allah menjadikan harta hanyalah sebagai alat, bukan tujuan hidup. Tujuan hidup sebenarnya adalah pengabdian kepada Allah. Kemuliaan atau gengsi seseorang, diukur bukan dengan harta atau kemewahan, tapi dengan pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah.
Kehancuran suatu negeri digambarkan al-Qur’an bukan karena kamiskinan, tapi karena pelesiran dan hidup berfoya-foya, yang menimbulkan gejolak dan kecemburuan sosial. Mereka tidak peduli lagi dengan peringatan Allah. Pada saat itulah Allah menurunkan kutukan dan murka-Nya dengan menghancurkan negeri tersebut. “Dan apabila Kami mentakdirkan kehancuran suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada mereka yang suka berfoya-foya agar ingat kepada Allah, namun justeru mereka membuat keonaran dan kefasikan, sehingga pantaslah mereka mendapatkan peringatan Kami. Kemudian Kami hancur leburkan mereka” (QS. Al-Isra : 16).

Hadirin, Hadirat Yang berbahagia !
Ketiga, puasa Ramadan memberikan pelajaran bagi kita agar membelanjakan harta pada yang bermanfaat, bukan pada yang mubadzir. Ajaran Ramadan ketiga ini sesuai dengan firman Allah QS. Al-Isra : 26-27. “Dan berikanlah hak karib kerabat, orang miskin dan ibnu sabil, dan janganlah engkau berbuat mubadzir, sesungguhnya mubadzir itu kawan syetan. Dan syetan itu kufur kepada Tuhannya”. Yang dimaksud mubadzir adalah membelanjakan harta pada sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Sebuah piring biasanya untuk wadah makanan. Tetapi apabila sebuah piring dibeli hanya untuk dipajang, tidak untuk dipakai, maka itulah mubadzir. Apalagi kalau harga piring itu ratusan ribu, atau bahkan jutaan rupiah. Tentunya hal ini akan melumpuhkan ekonomi sebuah negara, karena uang seharga piring itu terhenti dari peredaran. Padahal menurut teori ekonomi, uang itu hendaknya tetap beredar. Orang-orang yang melakukan mubadzir dicap oleh Allah sebagai kawan syetan. Hal ini karena hobi mengoleksi barang-barang antik dan mahal, biasanya akan menimbulkan perasaan sombong dan bangga, sedangkan yang suka sombong dan bangga itu hanya syetan dan iblis.
Adalah tidak arif dan bijaksana, apabila kita mengoleksi barang mubadzir dengan harga jutaan rupiah, sementara tetangga kita, orang yang hidup di samping rumah kita, merintih kelaparan. Pagi makan, sore tidak, atau sebaliknya. Apakah hati kita tidak tergugah oleh sabda Rasulullah SAW :
ليس المؤمن بالذى يشبع وجاره جائع إلى جنبه (رواه البخارى).
“Tidak termasuk mukmin yang sempurna, orang yang hidupnya kenyang sendiri, sementara tetangga di sampingnya kelaparan” (HR. Bukhori ).
Keempat, puasa Ramadan mendidik kita untuk membayarkan harta zakat sebagai suatu kewajiban, baik zakat harta maupun zakat fitrah. Zakat merupakan salah satu rukun Islam. oleh karena itu, sangatlah keras ancaman dan peringatan yang telah Allah tetapkan kepada mereka yang tidak mengeluarkan zakat. Harta itu pada hakikatnya hanya titipan Allah bagi para mustahiq. Barang siapa yang tidak menyampaikan titipan itu kepada empunya, maka ia telah berbuat zalim, dan telah berani menentang hukum Allah. “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak mengeluarkan zakatnya pada jalan Allah, maka berilah peringatan kepada mereka dengan azab yang berat. Pada hari dipanaskan semua emas dan perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakarkan ke dahi, rusuk dan punggung mereka. (Kepada mereka dikatakan): Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu, maka rasakanlah azab dari ( harta) yang kamu simpan itu” (QS. At-Taubah; 34-35) .

Allahu Akbar (3x) Wa Lillahilhamd !
Hikmah kelima yang dapat kita petik dari pengajaran Ramadan adalah adalah: Budayakanlah sedekah sebagai penanaman modal bagi pembangunan istana kebahagiaan di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, disebutkan, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, sedekah apa yang paling utama? Rasul menjawab: Shodaqatun fi Ramadlan. Dari sini, kita diajarkan untuk mentradisikan sedekah, yaitu menjadikan sedekah sebagai pakaian hidup atau kebiasaan yang telah membudaya. Secara lahiriyah, harta zakat atau sedekah infaq itu dikeluarkan untuk kepentingan orang lain, tapi pada hakikatnya tidaklah demikian. Sesungguhnya harta itu akan menjadi amal simpanan bagi kita di hari pembalasan nanti. Dia nantinya akan selalu menjadi amal yang pahalanya senantiasa mengalir, meskipun kita telah meninggal dunia.
Harta yang kita simpan di Bank atau di lemari besi, belum tentu kita sendiri yang memanfaatkannya. Sebab, boleh jadi kita lebih dulu meninggalkan dunia ini, ditunggu oleh malaikat Maut. Demikian juga koleksi harta kekayaan yang dikumpulkan, akan kita tinggalkan atau wariskan untuk orang lain, sebab kita tidak membawanya ke alam barzah. Dalam kaitan ini, alangkah meruginya mereka yang mati-matian mengumpulkan harta, tetapi belum sempat memanfaatkannya manjadi harta yang memiliki nilai ibadah sosial. Hanya penyesalanlah yang mereka rasakan. “Dan infaqkanlah sebagian rizki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum maut mendatangimu. Di waktu itu kamu akan menyesal dan berkata “Ya Tuhanku! Kalaulah Engkau berkenan mengundurkan ajalku sekejap saja, niscaya akan aku sedekahkan semua hartaku, sehingga aku menjadi orang yang saleh. Namun Allah tidak akan mengundurkan ajal sedikitpun bila telah tiba, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al- Munafiqun: 10-11).

Hadirin, Jama’ah Id yang Allah Mulyakan !
Pada hari yang fitri ini, hari kemenangan kita setelah melakukan jihad akbar pada bulan suci Ramadhan, marilah kita melakukan perenungan dengan sedikit berkontemplasi tentang harta yang selama ini kita miliki. Berdasarkan lima ajaran Ramadan tentang tentang membelanjakan harta di atas, bolehlah kita bertanya pada diri kita sendiri: adakah harta yang kita miliki diperoleh dengan jalan yang halal ? Sudahkah kita membelanjakan pada yang halal? Apakah makanan, minuman, dan pakaian kita berasal dari yang halal? Mari kita membaca diri, bagaimana sikap kita dalam mengendalikan nafsu akan harta ini, apakah berlebih-lebihan, berbuat mubadzir atau tidak? Sudahkah harta itu kita tunaikan zakatnya? Apakah kita sudah melaksanakan budaya sedekah? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya sebagai renungan dan muhasabatunnafs, yang tidak perlu di jawab di muka umum. Hanya diri kita masing-masing yang tahu dengan pasti mengenai jawabannya.
Namun yang pasti, apabila lima ajaran Ramadan tentang pengendalian nafsu akan harta itu kita lestarikan dan abadikan dalam kehidupan pasca-Ramadan, niscaya Indonesia yang mayoritas Muslim ini akan menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibah wa Rabbun Ghafur, bebas dari tindakan-tindakan kriminal terkait dengan penyelewengan harta, bebas dari korupsi dan manifulasi. Banyaknya kasus korupsi yang kini ditangani KPK, tidak lain kecuali disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan nafsu akan hartanya. Semoga di hari kemenangan ini, ajaran-ajaran Ramadan senantiasa mewarnai seluruh hidup kita, amin ya rabbal ‘alamin.
بارك الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

الخطبة الثانية
الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر.ولله الحمد.
الحمد لله الذى جعل اليوم عيدا للمسلمين, وجعل عبادة الصوم وزكاة الفطر من شعائر الدين. أشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له. وأشهد أن محمّدا عبده ورسوله.أما بعد: فيا عباداالله, إتقوا الله حق تقاته ولاتموتنّ إلا وأنتم مسلمون. اللهمّ صلّ وسلّم وبارك على سيدنا محمّد وعلى أل سيدنا محمّد كما صليت وسلّمت وباركت على سيدنا إبراهيم وعلى أل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.أمين يارب العالمين.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات, ويا قاضي الحاجات. الّلهمّ أحسن أخلاقنا وصحّح اجسادنا ونور قلوبنا وأحسن أعمالنا والى الخير قرّبنا وعن الشّر ابعدنا واقض حوائجنا فى الدنيا والاخرة. رّبنا تقبّل منّا انّك انت السّميع العليم وتب علينا انّك انت التّواب الرّحيم. اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِاْلأِيْماَنِ كاَمِلِيْنَ وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ وَلِلدَّعْوَةِ حَامِلِيْنَ وَبِاْلإِسْلاَمِ مُتَمَسِّكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِي اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ وَلِلنِّعاَمِ شاَكِرِيْنَ وَعَلَى اْلبَلاَءِ صاَبِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلاَدَنَا هَذَا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ سَخَاءً رَخاَءً، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِناَ سُوْأً فَاَشْغِلْهُ فِي نَفْسِهِ وَمَنْ كَادَنَا فَكِدْهُ وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُ تَدْبِيْرَهُ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِيْ ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْ بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفَظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، أََللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، أَللّهُمَّ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، َسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

2 pemikiran pada “RAMADAN DAN PENGENDALIAN NAFSU AKAN HARTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s