Khutbah Idul Fitri 1432 H

RAMADHAN MENGEMBALIKAN FITRAH KEMANUSIAAN

Oleh: Toto Suharto

 الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر الله أكبر الله أكبر. لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد. الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا, لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذي جعل اليوم عيدا لعباده المؤمنين. وختم به شهر الصيام للمخلصين.وجعل في طاعته عز الدنيا والاخرة للطائعين. اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له شهادة بها تطهر القلوب من الغش اللعين. واشهد ان محمدا عبده ورسوله اطوع الخلق لرب العالمين. اللهم فصل وسلم وبارك على سيد نا محمد وعلى اله واصحابه الجاهدين. اما بعد: , فيا أيها المسلمون رحمكم الله! أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتّقون. قال الله تعالى في القرأن الكريم وهو أصدق القائلين: قال عيسى ابن مريم اللهم ربنا أنزل علينا مائدة من السماء تكون لنا عيدا لأوّلنا وأخرنا وأية منك, وارزقنا وأنت خير الرازقين.

 Hadirin dan hadirat, al-‘aidin wa al-‘aidat ! Ketika secercah cahaya fajar satu Syawal muncul di ufuk Timur, sinarnya telah menebarkan benih-benih kedamaian, kehangatan dan kesejukan pada aura dan hati segenap kaum Muslimin. Kedatangannya disambut dengan gema takbir dan tahmid, sebagai tanda kemenangan atas perjuangan besar berperang melawan hawa nafsu. Gemuruh suara takbir membahana sejagad, berkumandang membesarkan ke-Maha-Besaran dan ke-Maha-Sucian Tuhan.

Sebagai Muslim, sejatinya kita senantiasa membasahi bibir dengan kalimah takbir puluhan kali pada setiap harinya. Bahkan, shalat yang kita lakukan, pada setiap gerakannya juga ditandai oleh bacaan takbir. Hari ini kita semua mengulang-ulang lafadz keagungan Tuhan itu, guna menandai kehadiran Idul Fitri. Takbir merupakan suatu pengakuan bahwa hanya Allah saja yang Maha Besar, hanya Allah Yang Maha Agung dan hanya Allah saja Yang Maha Tinggi. Oleh karena itu, seharusnya kita tidak boleh mengagungkan apapun, dan siapapun di atas kebesaran Allah.

Namun, setalah sebelas bulan kita lewati, mulai dari Syawal hingga Sya’ban, banyak sekali perbuatan yang tak kita sadari, justeru telah menyebabkan kita menjadikan Tuhan Selain Allah. Tidak jarang setan selalu berupaya menyesatkan kita, menawarkan Tuhan-Tuhan lain untuk dibesarkan. Akhirnya, muncullah berbagai Tuhan pengganti Allah, bisa dalam bentuk kekayaan, kekuasaan, keegoisan, intelektualisme atau yang lainnya. Seseorang yang telah mengagungkan kekayaan, maka ia akan bersedia melakukan apa saja untuk memperoleh harta benda tersebut, tanpa memperdulikan halal dan haramnya. Begitu juga orang yang membesarkan kekuasaan atau jabatan, maka pada gilirannya Allah pun dipandang kecil. Kedudukan tidak lagi dipandang sebagai amanah Allah. Kekuasaan yang semestinya dipergunakan untuk mengayomi si lemah yang tak berdaya, malah dipakai untuk melindungi yang kuat dan yang berkuasa.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah !

            Kehadiran bulan Ramadhan ke tengah-tengah kita, sesungguhnya merupakan sarana yang strategis bagi kita untuk mengembalikan Tuhan-Tuhan palsu itu pada tempatnya, dan sekaligus mengukuhkan keesaan dan kebesaran Allah sebagai satu-satunya Tuhan dalam kehidupan kita. Selama Ramadhan, kita dilatih untuk menundukkan hawa nafsu. Kita tahan keadaan lapar dan dahaga, kendatipun makanan dan minuman tersedia di hadapan kita. Kita isi setiap malamnya dengan qiyamullail, ruku’ dan sujud di hadapan Allah SWT. Kita hadirkan al-Qur’an setiap hari, agar hati kita tersentuh oleh kesucian wahyu. Bulan Ramadhan kita anggap sebagai saat yang tepat untuk melakukan pembinaan ruhaniyah. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari padanya. Kita dilatih dan dibina untuk membumikan sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Pema’af, maka melalui Ramadhan, kita mencoba untuk mudah mema’afkan kesalahan orang lain, tidak pemarah, apalagi pendendam. Allah juga adalah Rahman dan Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maka selama Ramadhan, kita coba teladani sifat Allah ini dengan cara menebarkan rahmat dan kasih sayang di antara sesama makhluk Tuhan. Demikian seterusnya, sifat-sifat Tuhan lainnya, selama Ramdhan, kita coba hayati esensinya lewat keteladanan dalam kehidupan keseharian. Bahkan apabila kita saksikan acara-acara di televisi, banyak sekali program-program religius menyambut Ramadhan, yang nilai positifnya tiada lain kecuali agar kita menempatkan Tuhan dalam hati kita, dan membumikan sifat-sifatnya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita semua secara konsisten dan kontinyu mencontoh sifat-sifat Tuhan tersebut, hal itu berarti kita telah membangun serta memakmurkan bumi menjadi “bayang-bayang” sorga yang penuh kedamaian dan keamanan.

            Seseorang yang senantiasa berupaya meneladani Tuhan dalam berbagai sifat-Nya, dilukiskan filosuf Ibn Sina sebagai berikut: “Seorang yang bebas dari ikatan raganya, dalam dirinya terdapat sesuatu yang tersembunyi, namun dari dirinya juga tampak sesuatu yang nyata. Ia akan selalu gembira dan banyak tersenyum. Betapa tidak, karena hatinya telah dipenuhi kegembiraan sejak ia mengenal-Nya. Apabila ia mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mengajak dengan cara lemah lembut, tidak dengan kekerasan, tidak pula dengan intimidasi dan perusakan. Jika ia orang kaya, maka ia akan selalu dermawan, karena cintanya kepada harta benda tidak berbekas lagi. Begitu juga sikap kesehariannya, akan selalu pema’af, karena dadanya demikian lapang sehingga mudah menampung segala kesalahan orang.

            Hadirin, jamaah shalat ‘Id yang berbahagia!

Demikianlah Ramadhan merupakan sarana strategis untuk membumikan sifat-sifat Tuhan. Apabila selama Ramadhan kita berhasil melakukan ini, maka kita layak menyebut diri sebagai orang-orang yang beridul fitri. Secara bahasa, idul fitri berarti  “kembali kepada kesucian sesuai asal kejadian.” Hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan fitri. Kullu Maulidin Yuladu ’Alal Fitrah. Fa Abawahu Yuhawwidanihi Au Yunassironohi, Au Yumajjisanihi (Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, suci. Kedua orang tuanyalah yang membuat ia bisa menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi). Menurut Hasan Langgulung, Fit{rah adalah suatu istilah dari bahasa Arab yang berarti tabiat yang suci atau baik, yang khusus diciptakan Tuhan bagi manusia. Fit{rah merupakan potensi kodrati yang dimiliki manusia agar berkembang menuju kesempurnaan hidup. Keberhasilan manusia dalam hal ini dapat dilihat dari kemampuannya untuk mempertahankan fit{rah ini.

Fitrah kesucian manusia itu, menurut Quraish Shihab, dimiliki setiap manusia sejak kelahirannya, walaupun karena kesibukan dan dosa-dosa ia terkadang menjadi terabaikan dan bahkan tidak terdengar lagi suaranya. Kesibukan dan dosa-dosa itulah yang disebut dalam hadis itu sebagai ”Orang Tua”, yaitu sesuatu di luar keadaan manusia, yakni apa saja yang dapat membuat manusia lalai akan fitrah kemanusiaannya, sehingga ia bisa menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd!

Jika idul fitri kita maknai sebagai kembali kepada fitrah kesucian, maka di dalamnya terdapat tiga unsur yang saling berkatan, yakni: benar, baik dan indah. Dengan berpedoman kepada ketiga ini, maka seseorang yang ber-idul fitri senantiasa akan berbuat sesuatu yang indah, benar dan baik. Bahkan dengan kesucian jiwanya, ia akan berusaha memandang segalanya secara positive thinking. Dalam hubungannya dengan sesama manusia, ia secara maksimal akan mencari sisi-sisi yang baik, benar dan indah. Ia menyadari bahwa dengan mencari yang indah, akan melahirkan estetika, mencari yang baik akan melahirkan etika, dan mencari yang benar akan melahirkan logika. Dengan pandangan demikian, maka seseorang itu tidak mempunyai waktu lagi untuk mencari keburukan dan kesalahan orang lain. Kalaupun ia menemukannya, ia akan memberi ma’af atau bahkan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan itu. Sikap seperti itulah yang dituntut dari seorang Muslim yang bertakwa. Allah berfirman dalam surat Ali Imran:

وسارعوا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والارض اعد ت للمتقين. الذين ينفقون فى السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين.

“Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

 Mengutip dua poin terakhir dari kandungan ayat ini, yaitu mema’afkan kesalahan orang lain dan berbuat baik terhadap makhluk lain, terdapat suatu kisah menarik, yaitu bahwa konon ada salah seorang sahabat Rasul yang pernah bersumpah untuk tidak berbuat baik terhadap seseorang, yang telah melakukan kesalahan terhadap anggota keluarganya. Ia ditegur Rasul dengan turunnya ayat:

ولا يأتل اولى الفضل منكم والسعة ان يؤتوا اولى القربى والمساكين والمهاجرين فى سبيل الله وليعفوا وليصفحوا الاتحبون ان يغفر الله لكم والله غفور رحيم.

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu, bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” QS. Al-Nur: 22.

             Konsep mema’afkan merupakan ajaran Islam yang utama, karena itu perintah untuk mema’afkan, berulang kali disebut dalam al-Qur’an. Kata ma’af dalam al-Qur’an diistilahkan dengan kata al-‘afwu, yang berarti “menghapus”, karena prilaku mema’afkan itu sebenarnya adalah menghapus bekas-bekas luka yang terdapat di dalam hati. Dengan demikian, tidak dapat dikatakan mema’afkan jika masih ada sesuatu yang tersisa sebagai bekas luka itu di hati. Itu sebabnya, sebagian ulama fiqh menuntut agar seseorang yang memohon ma’af dari orang lain, terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak akan melakukannya lagi, serta meminta ma’af sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya. Selanjutnya, refleksi dari al-‘afwu itu harus dimanifestasikan dalam bentuk al-shafhu. Kata ini pada mulanya berarti “kelapangan.” Darinya dibentuk kata shafhat yang berarti “lembaran atau halaman” serta mushafahat yang berarti “berjabat tangan.” Seseorang yang melakukan al-safhu, dituntut untuk melapangkan dadanya, sehingga mampu menampung segala ketersinggungan, dengan menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Al-Safhu yang digambarkan dalam bentuk berjabat tangan itu, menurut al-Raghib al-Asfahaniy, dipandang lebih tinggi nilainya dari pada sekadar mema’afkan.

             Hadirin jamaah Id Rahima Kumullah!

Sebagai kata akhir dari uraian ini, maka dapat diambil suatu konklusi bahwa sejatinya, seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadhan, baik shalat, puasa, zakat dan shalat Id itu sendiri, dimaksudkan untuk mengembalikan fitrah kemanusiaan kita. Orang yang berhasil menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk mengembalikan fitrah ini, yaitu setelah sebelas bulan yang lalu mengalami rona maksiat dan debu dosa, maka ia layak beridul fitri, merayakan kemenangan karena berhasil mengembalikan fitrahnya dalam kesucian. Inilah makna sabda Rasul yang menyebutkan bahwa Siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan berharap pahala dari Allah, maka diampuni segala dosanya yang telah lalu. Man Shama Ramadhana Imanana Wah Tisaban, Ghufiro Lahu Ma Taqaddama Min Dzabihi. Ketika dosa masa lalu telah diampuni, maka ia kembali suci, sebagaimana ketika dilahirkan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang layak merayakan idul fitri dalam makna yang sebenarnya, bukan idul fitri yang bersifat seremonial belaka. Laisal Idu Liman Labisal Jadid, Wa Lakinnal Idu Liman Tho’atuhu Tazid. Bukanlah Beridul Fitri itu bagi orang yang memakai baju baru, tetapi idul fitri itu bagi orang yang ketaatannya bertambah.

بارك الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

الخطبة الثانية

الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبر.ولله الحمد.

الحمد لله الذى جعل اليوم عيدا للمسلمين, وجعل عبادة الصوم وزكاة الفطر من شعائر الدين. أشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له. وأشهد أن محمّدا عبده ورسوله.أما بعد: فيا عباداالله, إتقوا الله حق تقاته ولاتموتنّ إلا وأنتم مسلمون. اللهمّ صلّ وسلّم وبارك على سيدنا محمّد وعلى أل سيدنا محمّد كما صليت وسلّمت وباركت على سيدنا إبراهيم وعلى أل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.أمين يارب العالمين. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات, ويا قاضي الحاجات. اللهم أعز الإسلام والمسلمين, وأصلح ولاة المسلمين, وألف بين قلوبهم وأصلح ذات بينهم وانصرهم علي عدوك وعدوهم, ووفقهم للعمل بما فيه صلاح الإسلام والمسلمين. اللهم لاتسلط  علينا بذنوبنا من لايخافك ولايرحمنا, يا أرحم الراحمين. الّلهمّ أحسن أخلاقنا وصحّح اجسادنا ونور قلوبنا وأحسن أعمالنا والى الخير قرّبنا وعن الشّر ابعدنا واقض حوائجنا فى الدنيا والاخرة. رّبنا تقبّل منّا انّك انت السّميع العليم وتب علينا انّك انت التّواب الرّحيم. ربنا أتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار.سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

 

WassalamuAlaikum WR. WB.

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s